Sabtu, 08 Desember 2012

Polifarmasi

POLIFARMASI

Obat adalah suatu zat yang digunakan dalam penyembuhan, penurunan, dan pencegahan penyakit. Farmakologi adalah cabang ilmu farmasi yang mempelajari tentang obat-obatan. Obat merupakan terapi utama yang digunakan masayarakat ketika sakit. Penggunaan obat secara bebas atau tanpa resep dokter sering dilakukan agar seseorang bisa cepat sembuh tanpa biaya yang mahal. Pada kesempatan ini, akan dibahas mengenai definisi polifarmasi, polifarmasi pada anak dan lansia, dampak polifarmasi, pencegahan dan solusi dari polifarmasi.
Polifarmasi adalah penggunaan obat yang banyak baik yang diprogramkan atau tidak sebagai upaya mengatasi beberapa gangguan secara bersamaan (Potter & Perry, 2005). Polifarmasi lebih sering dilakukan pada lansia dan anak-anak karena oleh sebab tertentu mereka mudah terkena penyakit. Berdasarkan pada kasus, telah dikeatahui bahwa nenek Neli dan Nola mengalami polifarmasi. Polifarmasi pada usia lanjut memiliki beberapa efek karena berhubungan dengan pemakaian obat yang benyak dan penurunan fungsi farmakokinetik dan farmakodinamik organ tubuh. Proses menua menyebabkan penurunan fungsi organ tubuh, sehingga kecepatan dan derajat absorpsi, distribusi, metabolisme, dan eliminasi cenderung menurun. Kebutuhan obat pada lansia akan meningkat seiring berkembangnya berbagai penyakit dalam tubuh, akan tetapi kemungkinan kontraindikasi dapat terjadi karena konsumsi obat berlebih dalam tubuh seperti peroxicam dengan captropil. Berkurangnya efisiensi mekanisme homeostatik pada lansia mengakibatkan berkurangnya kemampuan menetralkan efek berbagai obat sehingga lebih rentan terhadap efek samping obat.
Polifarmasi pada anak juga memiliki dampak negatif yang perlu diperhatikan. Perkembangan imunitas pada anak belum sempurna, sehingga perlu diperhatikan penggunaan obat yang dapat mengganggu. Pemberian antibiotik pada anak yang tidak teratur atau berlebihan akan mengakibatkan tubuh menjadi resisten, sehingga imunitas tubuh tidak akan terbentuk dan tubuh tidak dapat mengenali penyekit-penyakit yang pernah menyerangnya. Organ-organ dalam tubuh yang berfungsi dalam farmakokinetik belum bekerja secara sempurna, sehingga proses absorpsi, distribusi, metabolisme, dan eliminasi tidak lancar.
Langkah-langkah menejemen polifarmasi dapat dilakukan dengan pencegahan, review obat secara rutin, pendekatan non farmasi, komunikasi, penggunaan obat tunggal, dan penyederhanaan. Pencegahan dapat dilakuikan dengan mengkonsumsi obat jika ada bukti yang baik sehingga betul-betul dalam keadaan membutuhkan pengobatan dan membatasi diri untuk mengkonsumsi obat untuk keadaan yang bisa disembuhkan tanpa obat. Review obat secara rutin dilakukan dengan mencatat penggunaan obat yang di konsumsi ketika menjalani pengobatan. Review yang dilakukan yaitu terapi yang sedang dijalani, akan dijalani, efek samping, interaksi, dosis, formulasi obat dan juga berapa lama dilakukan. Pendekatan non farmasi dilakukan dengan mengoptimalkan gaya hidup sehat dan mengukur waktu kapan diperlukannya pengobatan, sehingga tidak ketergantungan pada obat. Komunikasi dengan tenaga kesehatan dan keluarga/kerabat sangat penting terutama mengenai ekspektasi, kesulitan dalam pengobatan dan kemampuan untuk memenuhi aturan pengobatan. Diskusikan setiap perubahan dalam peraturan pengobatan dengan penyedia kesehatan. Penggunaan obat tunggal lebih dianjurkan karena obat tunggal bekerja secara spesifik sesuai fungsinya dan memiliki dosis yang sesuai, sehingga lebih kecil kemungkinan timbulnya efek samping. Penyederhanaan dilakukan dengan mengurangi konsumsi obat yang dijadikan pilihan dan pengobatan placebo. Pertimbangkan kemungkinan sekecil apapun untuk dosis yang  paling kecil, interval dan pengurangan dosis sepanjang itu tepat.
Kesimpulannya, polifarmasi memiliki banyak risiko teutama pada lansia dan anak-anak. Penurunan atau belum berkembangnya organ-organ yang berperan dalam pengobatan menjadi hal utama yang mengakibatkan efek dari polifarmasi, sehingga perlu adanya pemeriksaan lebih lanjut agar diperoleh alternatif yang dapat digunakan tanpa mengkonsumsi obat berlebih. Solusi yang dapat digunakan adalah dengan memenejemen penggunaan polifarmasi dan lebih mengoptimalkan gaya hidup sehat tanpa menggunakan obat, sehingga dapat menghindari, mengurangi, atau menghilangkan dari ketergantungan obat.

Referensi:

Bustami, Z. S. (2001). Obat untuk Kaum Lansia. Bandung: ITB.
Potter, P. A., & Perry, A. G. (2005). Buku Ajar Fundamental Keperawatan (4 ed., Vol. 1). (D. Yulianti, M. Ester, Eds., Y. Asih, & [. al.], Trans.) Jakarta: EGC.
Santono. (2005). Obat dan Anak. Bandung: ITB.

Tumbuh Kembang Remaja

TUMBUH KEMBANG REMAJA

Pertumbuhan diartikan sebagai suatu prosespertambahan ukuran atau volume serta jumlah sel secara irreversible, yaitu tidak dapat kembali ke bentuk semula. Perkembangan adalah suatu proses menuju keadaan yang lebih dewasa. Tumbuh kembang merupakan proses yang berkesinambungan yang terjadi sejak intrauterin dan terus berlangsung sam pai dewasa (Soetjiningsih, 2004). Individu mengalami perubahan secara kuantitatif dan kualitatif dalam pertumbuhan dan perkembangan.
Masa remaja adalah periode yang ditandai dengan pertumbuhan dan perkembangan yang cepat dari fisik, emosi, kognitif dan sosial yang menjembatani masa kanak-kanak dan dewasa. Remaja atau adolesens adalah periode perkembangan selama dimana individu mengalami perubahan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa, biasanya antara usia 13 sampain20 tahun (Potter & Perry, 2005). Menurut UU No. 4 tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak, remaja adalah individu yang belum mencapai 21 tahun dan belum menikah. Menurut WHO, anak dianggap remaja bila anak telah mencapai usia 10-18 tahun. Puberta merupakan peralihan dari imaturitas seksual ke masa potensial subur yang berhubungan dengan munculnya tanda kelamin sekunder. Dalam tumbuh kembangnya menuju dewasa, berdasarkan kematangan psikososial dan seksual tahapan perkembangan remaja dibagi menjadi tiga, yaitu masa remaja awal/dini (Early adolescense) usia 11-13 tahun, masa remaja pertengahan (Middle adolescense) usia 14-16 tahun. Masa remaja lanjut (Late adolescense) usia 17-20 tahun.
Perubahan fisik terjadi dengan cepat pada masa remaja. Maturasi seksual terjadi seiring perkembangan karakteristik seksual primer dan sekunder. Empat fokus perubahan fisik yaitu, peningkatan kecepatan pertumbuhan skelet; otot dan visera, perubahan spesifik seks, perubahan distribusi otot dan lemak, dan perkembangan sistem reproduksi. Perubahan yang terlihat atau tidak terlihat terjadi secara pubertas. Semua perubahan ini terjadi karena perubahan hormonal  dalam tubuh. Ciri-ciri pertumbuhan somatik remaja adalah: 1) sistem regulasi hormon di hipotalamus; pituitari; kelamin; dan kelenjar adrenal akan menyebabkan perubahan kualitatif dan kuantitatif pada masa prapubertas sampai dewasa, 2) perubahan somatik sangat bervariasi dalam umur saat mulai dan berakhirnya; kecepatan dan sifatnya; tergantung pada masing-masing individu, 3) setiap remaja tahapan yang sama dalam pertumbuhan somatiknya, 4) timbulnya ciri-ciri seks sekunder merupakan manifestasi somatik dari aktivitas gonad (kelamin) dan dibagi dalam beberapa tahap yang berurutan, 5) pertumbuhan somatik pada remaja mengalami perubahan pada abad terakhir dalam ukuran dan umur mulainya remaja.
Cara berpikir individu akan berubah dan berbeda seiring bertambahnya usia, pengetahuan, dan pengalaman. Perkembangan cara berpikir merupakan satu hal yang akan di alami individu ketika memasuki masa remaja. Menurut Piaget (salah satu ahli psikoligi dari Swiss), tahap perkembangan kognitif individu terbagi menjadi 4 stadium. Pertama adalah stadium sensori-motori (usia 0-18/24 bulan), pada stadium ini perkembangan intelegensi anak baru terlihat dalam bentuk aktivitas motorik sebagai reaksi stimulasi motorik. Kedua adalah stadium pra-operasional ( usia 18/24 bulan-7 tahun), stadium ini dimulai dengan penguasaan bahasa yang sistematis, permainan simbolis, dan meniru perilaku seseorang. Ketiga adalah stadium operasional (usia 7-11 tahun), pada stadium ini anak mampu melakukan desentrasi, yaitu mampu memperhatikan lebih dari satu dimensi sekaligus dan mampu menghubungkan dimensi-dimensi tersebut. Keempat adalah stadium operasional formal (mulai usia 11 tahun), kemampuan berpikir pada stadium ini ditandai dengan dua penting, yaitu kemampuan deduktif-hipotesis dan kobinatoris.
Selain perkembangan kognitif, pada remaja psikososial pun akan berkembang. Remaja harus mampu membentuk hubungan yang dekat dengan orang-orang disekitarnya supaya tidak terisolasi secara sosial. Pada perkembangan psikososial, remaja akan berusaha mencari identitas-identitas, seperti identitas seksual, identitas kelompok, identitas keluarga, identitas pekerjaan, identitas kesehatan, identitas moral,  dan moratorium psikososial.
Pada masa remaja masalah-masalah akan lebih seirng timbul, seperti masalah psikologi, sosial, kesehatan, dan lain-lain. Hal ini berhubungan dengan pencarian jati diri penyesuain individu dalam masa remajanya. Dengan tingkat kognitifnya yang sedang menalami perkembangan, remaja akan mudah sekali dipengaruhi oleh hal-hal negatif. Oleh karena itu, peran orang tua sangatlah penting untuk mendampingi anak-anaknya ketika dalam masa perkembangan.
Kesimpulannya adalah pada masa remaja terjadi perubahan-perubahan secara signifikan mulai dari perubahan fisik, kognitif, ataupun psikososial. Masa remaja merupakan masa peralihan seseorang dari anak-anak menuju dewasa, dan hal ini akan di alami oleh setiap orang. Pada tahap ini, peran orang tua sangat penting untuk terus memperhatikan anak-anaknya agar masa remaja mereka dapat dilalui dengan baik dan tidak menimbulkan hal-hal negatif.

Referensi:

Narendra, M. B., & dkk. (2005). Tumbuh Kembang Anak dan Remaja. Jakarta: Sagung Seto.
Potter, P. A., & Perry, A. G. (2005). Buku Ajar Fundamental Keperawatan (4 ed., Vol. 1). (D. Yulianti, M. Ester, Eds., Y. Asih, & [. al.], Trans.) Jakarta: EGC.
Soetjiningsih. (2004). Tumbuh Kembang Remaja dan Permasalahannya. Jakarta: Sagung Seto.